?

Log in

 
 
01 March 2008 @ 12:05 pm
(FANFIC) Kento x Genki : M A P L E  


M A P L E


Pairing : Kento Ono x Genki Ookawa
Rating : PG

Didedikasikan untuk selamatan official situsnya Ono dan untuk  tacchin_tasania.  Mari sambut flu musim ini bareng2, djeng~!!!



_____________________________


_____________________________



Genki tak pernah menyangka hidupnya akan berubah sedrastis ini.

Awalnya dia menduga bahwa dirinya hanya seorang anak laki-laki biasa. Yang juga menghabiskan masa remajanya sebagai otaku yang biasa-biasa saja. Meski tercatat sebagai anggota agensi ternama, Dia tetap merasa tak ada yang istimewa. Bermain stage play, berdasar atas kekaguman pada kakak kelasnya yang sangat brilian. Genki mencoba menapaki karirnya—perlahan. Dia tak suka perubahan yang tiba-tiba.

Tak ada yang tahu ukuran bakat dalam diri seseorang. Dan Genki bukan termasuk orang yang peka akan hal itu. Wajar bila suatu hari dahinya mengerenyit saat melihat tumpukan hadiah berlapis plastik wrapping memenuhi meja riasnya di ruang ganti. Selang beberapa menit setelah penampilan perdananya di panggung FirstService. Dia juga selalu kebingungan kenapa namanya diteriakkan begitu keras waktu menarikan Bloodshoot bersama Kiriyama dan Jyutta di sela-sela Dreamlive. Atau menemukan fakta bahwa blognya dipenuhi inbox di luar kapasitas yang bisa dia nalar dengan akal sehat.

Jika Genki menyukai tepukan Kanesaki di bahunya sebelum pulang, tertawa saat dirinya digelitik Masa, atau tersipu saat menerima cubitan sayang dari Ouji tiap selesai mencoret-coret white board—itu semata-mata karena mereka gemas padanya. Hal yang wajar jika dia gembira mendapat ‘keluarga’ baru setelah sekian minggu lamanya berkutat melatih dialog dan gerakan panggung bersama mereka.

Perubahan? Rasanya tidak. Tak ada yang berubah dalam dirinya. Genki masih berandal layaknya remaja seumurannya. Cukup kekanakan untuk menyeimbangi kegilaan Doori yang jauh lebih muda. Atau masih dianggap anak kecil bila berhadapan dengan Baba.

Genki selalu merasa tak ada yang berbeda.

Sampai pada titik tertentu, dimana hal-hal baru berubah menjadi tak wajar lagi dalam kamus hidup Genki. Titik dimana dia harus menentukan sikapnya sebagai pribadi yang dewasa.

Ya, dewasa.

Menginjak usianya yang ke-20.

Pujian dari para cast kini cukup membuat telinganya merah hanya dengan mengingatnya kembali. Lelucon Kanesaki atau ucapan selamat malam Ouji menjadi sangat jarang didengarnya. Gelitikan Masa menjadi hal yang langka jika Baba sudah angkat bicara. Genki tak tahu kenapa.


Sampai ‘sang ayah’ tertawa saat Genki bertanya.


Daripada kesulitan menentukan apa yang berubah di sekelilingmu...,” ujar Kanesaki sembari menepuk kepalanya perlahan—“Lebih mudah untuk menyadari apa yang membuat kau merasa berbeda jika berada di dekatnya.”


Apa itu sangat berpengaruh?.”


Tentu saja,” lanjut Kanesaki—“Jika bukan karena itu, mungkin sampai sekarang aku masih berani menjitak kepalamu...,” tukas si pemeran Sanada sambil berlalu dengan berjingkat-jingkat. Genki tahu dia mencuri waktu untuknya dari jam latihan. Dia dapat mendengar omelan Masa di kejauhan saat Kanesaki kembali ke hall.


Genki tak punya cara lain selain lebih peka dengan dirinya sendiri.

Bahkan Baba tak punya komentar lain menanggapi pertanyaannya.

Bercerminlah...,” sahutnya—“Dan kau akan mengerti....”


Jika awalnya Genki menyangka itu adalah lelucon Baba untuk dirinya yang tak begitu mengagumi wajah sendiri—maka untuk hari itu, Genki harus mengakui bahwa Baba bersunguh-sungguh. Baginya yang terlalu konsentrasi saat membubuhkan make-up Akaya di depan kaca, detil menjadi hal yang terlupakan di sudut matanya.

Dia luput menyadari bahwa dirinyalah yang berubah.

Genki menatap wajahnya lekat-lekat. Di depan cermin dimana dia menghabiskan waktu untuk merapikan wig ikalnya di sela rehearsal. Terpaku memandangi sosok bermata hitam bulat penuh di depannya. Genki ternganga melihat dirinya sendiri.

Kemana sorot mata dingin itu? Kemana pipi chubbynya? Kemana helaian anak rambut tak berbentuk yang selalu dimainkan Masa? Kemana kulit kecoklatan yang membuatnya terlihat mencolok? Dan kemana tubuh bulatnya yang menggemaskan itu?.


...................................

Ookawa?.”

....................................


Terkesiap, Genki menoleh—untuk menemukan sosok jangkung yang kini menyandarkan tangannya di sisi pintu ruang ganti. Wajah anak laki-laki itu tampak jahil. Seperti biasa.

Kau menghilang lama sekali,” tukasnya. “Aku mencarimu. Ayo kembali.”

Genki tak menjawab. Matanya masih sibuk mencari arah yang tepat untuk mendaratkan pandangannya secara normal ke sosok tersebut. Seberkas sebum merah menjalari pipinya.

Oi, kok diam sih?.” Kento mendekat dan langsung duduk di atas meja rias. “Kenapa?.”

Tak ada respon.

Kenapa sih?.” Kento mencari celah untuk memandang wajah senpainya—“Lihat sini~!!!”

TEP~!!.”

Genki terlambat untuk menghindar. Ketika sepasang tangan meraih kedua pipinya dan mengangkatnya ke atas. Mata bulatnya membelalak melihat kilatan puas di wajah Kento.

Ada apa sih?,” tanya pemuda itu, bingung—“Tidak enak badan?.”

Jari Kento hendak terulur menggapai dahinya. Sebelum Genki menepis dengan kaget.

Aku tidak apa-apa.”

Lantas?.”

Kenapa kau kemari?.”

Eh? Aku?,” Kento menunjuk hidungnya—“Aku bosan latihan sendiri. Kulihat naskahmu tergeletak di hall. Jadi kupikir lebih baik mencarimu untuk teman main. Eheheheh....”

Kenapa tidak berlatih dengan orang lain?.” Genki memalingkan muka. Kento terkekeh.

Kane-chan dan Ouji membuat area khusus di pojok hall, aku tak boleh menganggu. Dan Jyutta menelepon Renn sejak pagi—lalu tertawa seperti orang gila sepanjang latihan. Selain itu, nggak ada yang kukenal. Kau tahu kan? Aku belum terbiasa dengan Seigaku yang baru.”

Mana aku tahu....”

Oh, ayolah, jangan dingin begitu.” Kento nyengir, “Boleh tanya kenapa kau ada di sini?.”

Genki menundukkan wajahnya di balik helaian rambut—“Tak apa-apa, cuma.....”

Belum sempat kalimatnya selesai, Genki merasa bulu tengkuknya berdiri terbalik. Rasa panas dengan cepat menjalari wajahnya begitu Kento mengulurkan sebelah tangannya untuk menyibak tirai rambut yang menutupi wajah anggun itu, perlahan.

O....ono...?”

Kento tersenyum—“Matamu bagus, jangan disembunyikan.”

Tercengang, Genki hendak mengucapkan sesuatu, namun Kento membuat kalimatnya tercekat—dengan tiba-tiba mendekat dan menggunakan telunjuknya untuk menyusuri garis muka sepanjang keningnya dengan seksama. Sudut bibirnya terangkat begitu menyentuh pipi Genki.

Kau marah padaku?.”

Ti...tidak.” Genki menggeleng—“Kenapa harus?.”

Kau memanggil Kane-chan untuk bercerita, dan menghampiri Bachon untuk bertanya...,” Kento melanjutkan. “Kenapa kau tak memanggilku untuk hal yang sama?.”

Darimana kau tahu?.”

Aku memperhatikan.” jawab Kento. “Aku selalu memperhatikanmu. Kau begitu pendiam akhir-akhir ini. Maka dari itu....” dia membelai pipi Genki dengan ibu jarinya—“Kau marah?.”

Genki menutup matanya sejenak, merasakan jari Kento yang masih menyusuri wajahnya dengan lembut—“Sebelum aku menjawab, bisa kuminta agar jangan tertawa?.”

Kento melirik heran—“Tertawa?.”

Yah, mungkin kau merasa ini akan lucu...” Genki menghela napas, lalu berpaling ke arah cermin—“Kau merasa ada yang aneh denganku, Ono?.”

Aneh?,” Kento mengikuti pandangannya pada bayangan Genki, “Apanya yang aneh?.”

Terdiam, Genki mengalihkan perhatian pada tumpukan booklet yang tersusun rapi di meja rias Kento. Dia meneliti sejenak, lalu mengambil salah satu booklet dari barisan bawah.

Ini aku kan?,” tukasnya cepat, menunjuk potret seorang anak laki-laki dengan boneka beruang dan wajah polosnya. “Lihat yang disana....” Genki menunjuk kaca—“Apa itu juga aku?.”

Dilihatnya Kento hanya berkedip. Tenang sekali.

Lalu kenapa?.”

Kau tidak merasa aneh?.”

Senyum Kento terkembang sinis. Dan Genki terlalu sibuk untuk menyadarinya.

Aku sama sekali tak peduli dengan apa yang kulakukan akhir-akhir ini. Aku tak mengerti kenapa sikap semua orang jadi berubah. Dan ketika Baba menyuruhku bercermin. Aku melihat diriku yang satu lagi...,” Genki menatap Kento, matanya meredup—“Aku merubah diriku sendiri, kau lihat kan? Aku bukan lagi Akaya yang lucu. Bukan lagi Genki yang mencolok seperti dulu.” tambahnya, “Kane-chan tetap dengan tawanya seperti waktu dia memperkenalkan diri dua tahun lalu. Ouji tetap anggun seperti yang kita kenal. Jyutta masih ceria dan konyol. Masa masih tetap lincah dan tak bisa diam. Bachon masih cinta dengan kameranya. Tak ada yang berubah.”

Setiap orang pasti berubah, Ookawa...,” Kento menjawab, ditunjuknya booklet di atas meja rias—“Kane-chan tak lagi pemalu seperti dulu. Kau lihat? Dia jadi gila semenjak Ouji mulai mengajaknya keluar. Jyutta jadi lebih sering menyendiri. Masa-kun tak lagi suka main-main sejak Ueshima-san mempercayakan kita padanya. Dan Bachon menjadi jauh lebih dewasa dari saat kita mengenalnya dulu. Kau sendiri meminta saran padanya, kan?,” selidik Kento—“Setiap publik figur punya cara sendiri untuk beradaptasi dengan keadaan mereka, Ookawa-kun.”

Kau juga tidak berubah, Ono,” Genki mendelik—“Kau masih pintar bicara.”

         “Begitukah?,” Kento menyeringai—“Kau hanya tidak menyadarinya.”

         “Eh?.”

         Kento tak melanjutkan ucapannya. Dan Genki juga tak bisa mengedipkan matanya saat Kento mendaratkan kecupan lembut di pipinya. Napas Kento membuat bulu kuduknya berdiri. Dirasakannya bibir Kento menyentuh telinganya, berbisik lirih.

         “Aku tak pernah merasa begitu bahagia jika berada dekat dengan orang lain. Dan kau membuatku frustasi karena terus memikirkanmu sepanjang hari. Ookawa....” ucap Kento, “Kau membuatku tak bisa tidur dengan tenang hanya karena ucapan selamat malam. Kau membuat jam sekolahku berantakan saat memasang potretmu dengan Gomoto-san. Kau membuatku sakit hati dengan stage play yang kau ceritakan. Kau membuatku berdebar dengan hanya melihatmu tersenyum—“ Kento mendekatkan dahinya pada kening Genki, perlahan. Matanya terpejam.

Kau membuat hidupku.............berubah, Ookawa....”

Genki tak bisa menanggapi apapun. Wajah Kento terlihat begitu tenang. Senyumannya. Napasnya. Sentuhannya. Semuanya terasa menyenangkan bagi Genki.


Lebih mudah untuk menyadari apa yang membuat kau merasa berbeda jika berada di dekatnya


Kalimat Kanesaki berputar dalam pikiran Genki.

Dan kemudian dia ingat.

Dia ingat.


Saat Kento menjawab pertanyaan tentang tipe favoritnya.

Aku suka yang berambut panjang....”


Genki ingat hal itu. Saat dimana dia bertekad untuk membiarkan rambutnya tumbuh memanjang dan meluruskannya untuk menyesuaikan bentuk muka. Mulai merasa bahwa dia terlalu bulat untuk berdiri di sebelah Kento, dan dengan sendirinya rajin mendengarkan nasihat Kanesaki untuk berenang tiap hari—atau tanpa sadar merawat kulitnya dengan seksama.

Dia menurut saat Ouji mengoreksi cara berpakaiannya. Dan sangat teliti memperhatikan cara Baba berpose di depan kamera. Genki ingat.


Merasa bodoh dengan melupakan hal yang dilakukannya sendiri. Genki tersenyum.

Ono....”

Kento membuka matanya—menjawab pelan, “Apa?.”

Kau ingat kata-katamu tentang seseorang yang kau inginkan...?.” Genki menjauhkan kening Kento dengan mata meredup—“Aku sadar kalau aku berusaha dengan sendirinya untuk menjadi seseorang yang cocok untukmu. Dan tanpa memperdulikan kenyataan itu, aku berpikir bahwa orang lain tidak lagi menyukai diriku yang sekarang,” ujarnya—“Bodoh, ya?.”

Kento tak berkedip mendengar jawaban itu.

Kau serius menanggapinya?.”

Tentu saja.”

Ya ampun...,” Kento terbahak—“Aku tak bermaksud...oh, ya ampun...Ookawa...” tambah pemuda itu, digenggamnya kedua tangan Genki dan membelainya lembut—“Aku....kau tahu? oh, oke....mungkin kau akan berpikir bahwa aku cukup kurang ajar....tapi aku pernah membayangkan betapa kau terlihat menarik dengan rambut panjang, dengan mata bulatmu yang bagus. Aku...... jezz, bagaimana ya?.” Kento mendesis sendiri—“Aku tak bermaksud untuk membuatmu merubah diri dengan ucapan itu. Maafkan aku.”


...................................................

Keduanya terdiam untuk beberapa saat.

Tangan Kento masih membelai jari-jarinya. Genki memperhatikan remaja di depannya itu dengan penuh minat. Remaja yang tiga tahun lebih muda darinya. Namun sama sekali tak pernah merasa canggung untuk mengobrol dengannya, sedekat ini. Setenang ini.

Sepertinya, setan kecil dari Rikkai—memang harus bertekuk lutut jika menghadapi sang dataman. Dataman yang mampu menaklukannya tanpa analisa maupun data.

Ookawa....”

Eh?.”

Apa karena hal itu kau jadi murung akhir-akhir ini?.”

Genki menggigit ujung bibirnya, wajahnya dimundurkan dengan tersipu. Dia mengangguk. Sangat perlahan. Wajah memerah di balik rambut kecoklatan itu membuat Kento harus berusaha keras menyembunyikan keinginannya untuk memeluk Genki saat itu juga.

Kau dengar ya....,” Kento kembali mendekatkan mukanya dan mengelus pipi Genki—“Baik Ookawa yang menggemaskan atau Ookawa yang dewasa, perasaanku akan selalu sama......” bisik Kento—“Karena itu....jangan menghindariku lagi.”


Genki tersenyum. Diraihnya jemari Kento turun dari wajahnya.

Jika aku menghindar lagi....” gumamnya—“Kau bisa menangkapku kapan saja....”


Dia memang berubah. Setidaknya untuk Kento.

Seperti maple yang memerah untuk musim gugur.



Dan Kento tetap menyayanginya.

Seperti langit biru sepanjang musim.







_____________________________________



_____________________________________




O M A K E


        “Uwaaahh....” seru Kanesaki—mengerutkan alisnya—“Mereka lucu sekali.”

        “Geser dikit dong, Kane-chan, aku nggak bisa lihat nih~!!.” Ren menyerobot. Pintu ruang ganti dihiasi empat kepala dan satu lengan. Saling sodok untuk bisa mencari celah.

        “Masa-kun~!! Jangan pegang-pegang perutku~!! Geli nih~!!,” omel Baba.

        “Aduh~!!!! Ouji~!! Ini kepala, bukan meja~!!!.” Jyutta menjerit karena Ren mencengkeram kepalanya. Masa—satu-satunya yang berada di luar barisan, menggeliat bosan.

        “Dasar Ono licik. Padahal dia sendiri yang menyuruh kita jaga jarak sama Genki.”

        “Apa boleh buat kan?.” Ren tersenyum—“Mereka jarang ketemu. Aw~!!! Kane-chan, jangan pegang-pegang~!!!,” jengitnya tertahan. Kane meletakkan telunjuk di depan hidung.

        “Sstt...nanti mereka dengar~!!.”

        Baba ngedumel—“Sampai kapan sih kita harus ngintip seperti ini?.”

        “Sampai adegan serunya datang.....” Masa nyengir—“Udah kisu, belum?.”

        “Belum....,” Kane ngikik—“Ouji, geser~!!!.”

        “I—iya, tapi jangan pegang-pegang dong~!!.”


Sepuluh langkah dari tempat mereka, dua pasang mata berdiri dengan heran. Yang satu sibuk memperhatikan. Satunya lagi membersihkan kacamatanya.

        “Ne, Dai-chan. Kau tahu mereka sedang apa?.”

        “Saa....”

        “Apa Rikkai isinya orang-orang seperti itu?.”

        “Saa....”

        “Ikut ngintip yuk?.”

        “Jangan....”


= = = = = = = = =


S E L E S A I


 
 
Current Location: warnet
Current Mood: cheerfulcheerful
Current Music: dream to remember - yanagi renji
 
 
 
tacchintacchin_tasania on March 1st, 2008 07:39 am (UTC)
kawaii~~~!!! *bahagia*
genichirou_nei: kane piratesgenichirou_nei on March 1st, 2008 09:30 am (UTC)
kawaai : ya?


(makasih ya tacc.)
ravientravient on March 2nd, 2008 04:15 am (UTC)
XDDD omakenya ganteng~ LOL
tooru_momiji: baba cafetooru_momiji on March 3rd, 2008 08:09 am (UTC)
Wakakakakakak OMAKEnya kenapa gak dibuat penpic sekali~?? kan panjang....

SGranitayaoi_fun_fan on April 25th, 2012 05:20 am (UTC)
uh uh uh uh~ *haggu gen-chan
ah imut sekali~ >w<
dan omake-nya juga menarik~