?

Log in

 
 
02 February 2008 @ 10:05 am
First part of the Trilogy  
 
Judul : Kokoro no Bloom (part 2)

Feel free to read it...

“Ini hasil ujian Genki-kun minggu ini...Saya tak tau harus berkomentar apa.” Takiguchi menyerahkan lembarah hasil ujian pada Kane, yang sepertinya pasrah dengan apa yang akan dilihatnya. Namun, roman mukanya berubah ceria saat melihat hasil ujian Genki di tangannya itu.

 

Berbeda dari sebelumnya, kini lembaran hasil ujian Genki rata-rata dihuni oleh huruf B dan yang mengejutkan Kane adalah adanya dua huruf A yang bertengger di lembaran itu, yakni pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika, dimana Kane salama ini tau kalau putranya membenci dua pelajaran itu.

 

Kane langsung mohon diri pada wali kelas Genki dan dia berlari menuju area parkir karena dia sudah tak sabar bertemu dengan putranya.

 

Sementara itu, di rumah Kane, Genki, seperti janji pada hari sebelumnya, sudah menanti di lapangan untuk bertanding tennis dengan Ren. sedangkan Ren sendiri masih membatu Watanabe mencuci piring di dapur.

 

“Daijobu Ren-san, saya bisa mengerjakannya sendiri. Lebih baik anda segera ke lapangan karena sepertinya Genki-sama sudah tak sabar menunggu anda.”

 

Ren memandang Watanabe sejenak dan kemudian berkata, “Baiklah,” sambil berjalan untuk mengambil raket di meja dan dia lengsung menghilang di pintu belakang.

 

Satu jam berselang dan Watanabe sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia berniat untuk membawakan Ren dan Genki minuman, dia pun membuka lemari es dan bingung dengan apa yang akan disuguhkannya.

 

“Ren-san suka apa ya~?? Kalau Genki-sama pasti jus melon dan ice tart melon. Tapi Ren-san...” gumamnya sambil nungging ke lemari es.

 

Shitterukai~??

 

Watanabe melompat saat mendengar kata itu. Saat dilihatnya, Minami sudah berada di sampingnya. Masih agak terkejut, dia bicara dengan gugup, “Mi...Mi...Minami-san...”

 

“Ren suka sekali sama orange juice dan dia juga suka roti kering.” Watanabe pun mengangguk mengerti dan kembali menungging ke lemari es. Saat dia ingin menawari Minami, sekali lagi, Minami sudah lenyap entah ke mana.

 

Watanabe sudah siap dengan baki berisi minuman dan kue kering saat dia mendengar suara tuan besarnya di pintu depan. Watanabe panik dan takut bila ada apa-apa dengannya dan langsung lari ke pintu depan.

 

“Kentaro-sama, ada apa~??” tanyanya saat tiba di pintu depan. Dia merasa lega sepertinya taun besarnya itu baik-baik saja.

 

“Nabe-san, lihat ini,” Kane menyerahkan hasil ujian Genki pada Watanabe. Watanabe hanya tersenyum melihat lembaran tersebut dan bergumam,

 

“Memang tak salah pilih guru...”

 

“Eh, apa maksudmu~?? Guru~?? Jadi Genki masih les~?? Tak biasanya ada guru yang bisa awet sampai sekarang ini. Apa orangnya spesial...”

 

Belum sempat Watanabe menjawab, dari belakang terdengar suara orang memanggilnya. Saat dia menoleh, dilihatnya Ren, yang sepertinya sadar kalau ada orang datang, datang menghampirinya dengan tubuh penuh keringat. Kane merasa wajahnya menjadi panas saat dia memandang Ren. dia sendiri tak tau mengapa hal itu bisa terjadi. Tanpa disadarinya, Ren kini sudah berdiri beberapa langkah darinya.

 

“Ren-san, mari saya perkenalkan, ini...” sebelum Watanabe menyelesaikan kalimatnya, terdengar teriakan Genki yang sepertinya sadar kalau ayahnya datang,

 

POPS~!!! Mana oleh-olehnya~!!!!” teriak Genki sambil berlari ke arah ayahnya.

 

“Pops~??” tanya Ren bingung, “jangan-jangan anda...”

 

“Sensei, kenalkan ini ayahku, Kanesaki Kentaro. Soshite Pops, ini guru lesku yang baru, namanya Yagami Ren.”

 

“Yoroshiku, Yagami-sensei.” Kata Kane sambil mengulurkan tangannya.

 

“Yoroshiku. Tapi, tolong cukup panggil dengan Ren, Kanesaki-san...”

 

“Dan tolong jangan panggil dia Kanesaki-san sensei, terlalu bagus.” Seloroh Genki, “panngil saja dia...” Genki diam sejenak untuk memikirkan panggilan yang cocok untuk sang ayah. Diliriknya wajah sang ayah yang kini semakinmerah sepeti kepiting rebus, ide usilnya pun muncul, “AHA~!!! Panggil saja dia Kane-chan. Benarkan Pops~??”

 

Kane mengangguk dengan pandangan tak lepas dari Ren. tapi, dia kemudian melepaskan tangan Ren, dengan berat hati tentunya, dan kemudian berpaling pada Genki.

 

“Ayah bangga padamu. Ayah senang seluruh nilai pelajaranmu meningkat lagi.” Kane berhenti sejenak dan berpaling pada Ren, “Sepertinya aku harus mengucapkan banyak terima kasih padamu Ren.”

 

“Aku senang mengajar Genki, jadi tak perlu sungkan, Kane...chan.” Ren sedikit ragu saat menyebut kata terakhir karena bisa dibilang ini pertama kalinya dia bertemu dengan ayah Genki dan langsung memanggilnya dengan embel-embel chan. Namun Ren dapat bernafas lega karena Kane sepertinya sama sekali tak keberatan dipanggil demikian.

 

Genki kemudian mengajak Kane untuk bergabung dengannya dan Ren bermain tennis, tapi Kane menolaknya karena dia lelah dan ingin istirahat. Setelah mohon diri, dia kemudian berjalan naik ke kamarnya. Setelah itu, Genki berpaling pada Ren dan bertanya,

 

“Gimana, sensei~??”

 

“Apanya yang gimana~??” Ren bertanya balik karena dia tak tau apa maksud pertanyaan Genki itu.

 

“Ayahku. Menurut sensei gimana~??”

 

Ren berpikir sejenak baru menjawab, “Dia sepertinya orang yang baik dan perhatian pada keluarganya. Memangnya kenapa~??”

 

“Tak apa-apa.” Genki lalu berlari menyusul Watanabe yang sudah lebih dulu menuju belakang. Dan Ren mengikutinya di belakang setelah beberapa selama waktu dia memandang tangga kosong yang tadinya dilewati Kanesaki.

 

Beralih pada Kane yang saat itu sudah berada di kamarnya. Bukannya segera mengganti pakaian ataupun mandi, Kane malah duduk melamun di tepi tempat tidurnya. Saat mendengar suara di bawah, dia bangkit perlahan dan berjalan menuju jendela. Dilihatnya sosok Ren yang sudah kembali bermain tennis bersama Genki.

 

“Aneh, perasaan ini seperti waktu pertama kali aku bertemu dengan...” Kane berhenti bergumam dan memandang Genki. “Tapi kenapa...”

 

Shitterukai~??

 

“HUAAAA~!!!!!” sekali lagi, keluarga Kane dikejutkan oleh pemunculan tiba-tiba Minami. “Si...si...siapa kamu~??” tanya Kane masih agak terkejut.

 

Bukannya menjawab pertanyaan Kane, Minami malah mengatakan, “anda sedang jatuh cinta...”

 

Kane tak tau harus berkata apa. Dia hanya diam dan memalingkan wajahnya kembali ke jendela, ke sosok Ren di bawah. Saat dia berpaling dari jendela, sekali lagi, sosok Minami  sudah lenyap entah ke mana.

 

 

==========

 

 

Semenjak kejadian waktu itu, Genki merasa ada yang berubah pada sang ayah.kane menjadi lebih sering berada di rumah, bahkan dengan senang hati menawarkan diri untuk menggantikan tugas Watanabe dalam hal menjemput dan mengantarkan Ren pulang. Tak hanya itu, sepertinya Ren juga jadi lebih ceria semenjak bertemu sang ayah. Hubungan keduanya juga bisa dikatakan sudah semakin dekat. Pernah suatu kali bukan Kane dan Genki, melainkan Watanabe dan Genki, yang menjemput Ren ke agency, Ren malah bertanya dengan nada khawatir,

 

“Apa yang terjadi pada Kane-chan~?? Kok bukan dia yang jemput~??”

 

Genki merasa ada yang aneh pada dua orang itu, tapi dia tak tahu apa. Akhirnya, dia pun menelepon Masa buat ngomongin soal itu. Daripada kepalanya sendiri yang pusing, pikirnya.

 

Moshi-moshiiii......

 

“Machon, aku lagi bingung nih....”

 

Genki-kun~?? Memang ada masalah apa lagi~?? Masih butuh cara buat ngusir guru les~??

 

“Bukan itu, ini masalah ayahku. Akhir-akhir ini dia aneh.”

 

Emang kenapa~??? Kerasukan~???

 

BUKAAANNNN~!!!!! Sejak hasil ujian mingguanku keluar, Pops jadi lebih sering berada di rumah. Yang lebih aneh, dia menawarkan diri untuk menggantikan Nabe-san menjemput dan mengantar Ren-sensei pulang. Machon, gimana menurutmu...”

 

“................”

 

“Machon, kau masih di situ kan~??”

 

“................”

 

MACHON~!!!!! Jangan bercanda dong.”

 

Huh...seishuun...seishuun...seishuun...

 

“Hah~?? Kamu ngomong apa~??”

 

Young...young...young...

 

“Kamu ngomong apa sih~???? Ngomong yang jelas kenapa~!!!!!”

 

Muda...muda...muda...

 

“Kamu ngomong apa sih~???? Aku gak ngerti~!!!!”

 

Dasar lemot. Ayahmu itu lagi jatuh cinta idiot...

 

Untuk beberapa waktu, Genki hanya diam untuk mengolah kata-kata Masa itu, barulah dia menjawab, “Pops~?? Jatuh cinta~?? Tapi...tapi...tapi...sama siapa~??”

 

Puripuripuri....emang repot ngomong sama anak kayak gini. Aku tanya, siapa orangbaru yang baru-baru ini masuk ke kehidupan kamu~??

 

“Gak ada siapa-siapa kok. Cuma... HAH~!!!! Maksudmu Pops jatuh cinta pada Ren-sensei~??”

 

Akhirnya sadar juga...

 

“Terus gimana dong~??”

 

Apanya yang gimana~?? Kamu kan tinggal tanya pada ayahmu.

 

“Bener juga. Kalau gitu, basok aku bakal tanya ke dia. Sankyu Machon. Oyasuminasai.”

 

Do itashimashite. Oyasumi.

 

Genki menutup telepon dan segera pergi tidur. Namun sebelum itu, dia berniat untuk mananyakan hal itu pada ayahnya besok.

 

 

==========

 

 

Esoknya, Genki bangun kesiangan. Dan saat dia turun ke bawah, Watanabe mengatakan bahwa ayahnya sudah berangkat ke kantor. Akhirnya, Genki mengurungkan niatnya untuk sementara waktu.

 

Waktu berangkat ke sekolah, Genki berpesan pada Watanabe agar tak usah menjemputnya karena dia ingin mampir ke suatu tempat dulu sebelum pulang. Watanabe hanya mengangguk dan langsung kembali ke rumah.

 

Sepulang sekolah, Genki pergi ke agency tempat Ren. namun dia ke sana bukan untuk menemui ren, melainkan untuk bertemu Gaku Shindou, pemilik agency itu yang sekaligus merupakan tunangan Ren. ganki beruntung karena dia tak perlu masuk ke dalam agency karena dilihatnya Gaku sedang bermain dengan anak-anak di halaman agency. Genki mendekatinya dan menyapanya lebih dulu.

 

“Konnichiwa, Gaku-san...”

 

“Eh, Genki-kun~?? Doushite~?? Apa ada masalah dengan Ren~??” Genki hanya menggeleng dan diam untuk beberapa saat sebelum melanjutkan,

 

“Begini...ano...sebelumnya gomen...”

 

Gaku ingin tertawa melihat Genki.  Namun akhirnya dia berkata, “Ada masalah apa, Genki-kun~??”

 

“Sebenarnya, aku ingin bertanya, apa benar...apa benar anda tunangan Ren-sensei~??”

 

Gaku menghela nafas, karena dipikirnya ada masalah apa, dan menjawab, “Benar, boleh tau kenapa~??”

 

“Kalau boleh bertanya lagi, sejak kapan kalian bertunangan~??”

 

“Sejak kami masih kecil.” Jawab Gaku singkat.

 

“Hah~??  Sejak kecil~??”

 

“Sebenarnya...” Gaku berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “aku sendiri tak tau apa ini bisa disebut sebagai bertunangan...”

 

“Eh, apa maksud anda~??” tanya Genki bingung.

 

“Aku sudah ditinggal kedua orang tuaku sejak aku masih kecil. Waktu itu, aku sempat patah semangat. Perlahan, seluruh sahabatku juga mulai meninggalkanku. Namun Ren beda, dia selalu berada di sisiku dan selalu membantuku menyelesaikan segala masalahku. Sejak itulah Ren berjanji akan selalu bersamaku selama aku belum menemukan seorang teman...”

 

Genki merenung mendengar cerita Gaku tadi. Dia jadi ingat pada dirinya sendiri yang hampir tiap hari tak bertemu dengan sang ayah. Maka dari itulah, sedikit banyak, dia dapat memahami perasaan Gaku. Tapi dia kemudian melanjutkan, “Bukannya sekarang anda sudah memiliki banyak teman~?? Berarti Ren-sensei bebas kan~??”

 

Pernyataan Genki membuatnya tersentak. Gaku diam sejenak, kemudian dia tersenyum dan kembali memandang Genki, “Sekarang giliranku bertanya. Kenapa kau menanyakan hal ini~??”

 

Genki bingung jawaban apa yang akan diberikannya pada Gaku. Saat dia merenung itulah, sebuah sedan hitam berhenti di halaman samping agency itu. Dari mobil itu keluar Kane, yang sepertinya mau menjemput Ren. di tangannya seperti ada sekotak makanan yang entah apa isinya.

 

Setelah berpikir beberapa waktu, Genki lantas menjawab, “karena ayahku menyukai Ren-sensei.”

 

Jawaban Genki yang bisa dikatakan keras itu membuat Kane terpaku dan menjatuhkan kotak yang dibawanya. Bersamaan dengan itu, ternyata Ren juga keluar dari agency karena waktu itu sudah mendekati pukul empat.

 

Genki menoleh ke arah Ren dan berujar lirih, “Ren..sensei...” Pada waktu yang bersamaan, Gaku juga melihat Kane datang. Sama halnya dengan Genki, dia juga berujar lirih, “Kanesaki-san...”

 

Ren langsung kembali masuk ke agency dan Gaku langsung mengejarnya, meninggalkan ayah dan anak yang saat itu hanya saling berpandangan dalam diam. Kane akhirnya bicara lebih dulu,

 

“Ayo kita pulang...”

 

“Tapi Pops, Ren-sensei...”

 

“Daijobu. Lebih baik kita segera pulang...”

 

Genki mengangguk dan mengikuti Kane kembali ke mobil sambil berujar lirih, “gomen...”

 

 

 

==========

 

 


to be continue...
Tags:
 
 
Current Location: Campus
Current Mood: energeticenergetic
Current Music: BAS 009- Galaxy
 
 
 
tooru_momiji: jaejoongtooru_momiji on September 15th, 2012 11:46 am (UTC)
hahaha....

ninja yang muncul kapanpun dan dimana pun dia itu. hahaha...

kebagusan dia kalo jadi living spiritny di TGT, harus lebih di"permak" lagi baru pas. hahaha